FAUQO dan FAIZ
Catatan harian buat buah hati
Senin, 24 April 2023
Pantai Puger
Senin, 12 April 2021
Pizza Ultah
HARI ini berlangsung seperti biasa. Pagi-pagi sarapan lauk ayam guring dan eseng-eseng kacang panjang. Lauk itu pula yang saya nikmati di saat makan malam barusan. Bahkan menu itu pula yang menjadi kandidat terkuat sebagai menu makan sahur pertama nanti.
Padahal hari ini, sesuai tanggal yang tertera di KTP adalah ultah saya (walau sejatinya saya ragu tanggal lahir saya adalah itu, namun apa boleh buat). Ulang tahun? Seumur-umur hari ultah saya tiada istimewa. Seingat saya. Mungkin dulu, saat kecil, pernah diistimewakan. Oleh kakek-nenek dan Ibu. Dibuatkan jenang abang, bubur merah. Sebagai tetenger, saat weton saya. Entah kapan terakhir kali saya diselamati dengan begitu.
Sampai hari ini, sampai seumur ini.
Barusan saya sudah makan malam ketika abang Gojek mengetuk pintu. Ada dua kardus pizza diantarkan. Tertera si Mbarep sebagai yang memesan. Ia sendiri belum pulang. Mungkin masih di perjalanan, dari kerja.
"Ini untuk ultah Bapak", kata si mbarep setiba di rumah.
Tentu saya terima dengan rasa terima kasih. Tentu juga saya memakannya dengan yaaa... begitulah. Maklum, lidah saya ini terlanjur agak sulit diajak move on, sulit diajak naik kelas. Menikmati menu ala orang kutit, orang kota. Maunya menu ndeso melulu.
Kalaulah si mbarep sebelum beli menu ala negeri Valentino Rossi itu memberi opsi, tentu saya minta dibungkuskan nasi dari warteg yang baru buka di dekat toko Pangestu itu saja. Bukan apa-apa, saya cuma penasaran. Maklum, belum pernah makan menu warteg. Dan warteg yang sudah lazim di Jakarta, belakangan mulai bermunculan di Surabaya. *****
Kamis, 30 April 2020
Belajar Puasa
Saya lupa. Yang jelas sejak kecil. Secara bertahap. Mula-mula puasa sampai dhuhur. Kuat, ditingkatkan lagi; sampai asyar. Satu-dua-tiga hari kuat, dinaikkan lagi; sampai maghrib. Tentu, sebagai anak-anak, tarafnya masih belajar. Masih penanaman. Bahwa, ibadah puasa ini sebagai kewajiban.
Bapak-ibu saya waktu itu harus begitu mengajari kami, anak-anaknya, untuk berpuasa. Walau sebagai anak-anak, saya lupa-lupa ingat, pernah mencuri-curi untuk mencucup air dari kendi saat siang sedang panas-panasnya, dan tenggorokan lagi haus-hausnya. Tak banyak sih. Cuma sampai klempoken saja.😀
Cara belajar berpuasa begitu pula yang saya terapkan kepada anak-anak saya. Si Sulung mengalami belajar berpuasa di sebuah desa Lamongan sana. Yang kalau siang panasnya minta ampun. Karena panas itu pula, setiap siang, saat puasa, si Sulung sering ke masjid, yang itu tak jauh dari rumah kami. Lengkapnya ke jeding masjid, tempat wudhu yang serupa bak mandi berukuran besar. Dengan air yang melimpah. Segar tentu saja. Untuk?
Mandi siang berlama-lama. Bersama teman-teman sebayanya. Mengguyur tubuh sekujur. Sambil minum? Ah, itu yang saya tidak tahu.😀
Nah, si Bungsu mengalami masa belajar berpuasa di Surabaya. Yang juga berhawa panas. Apakah dia pernah nyuri nyucup kendi atau mandi keramas sambil meneguk air jeding? Saya tidak punya kendi, yang ada malah lemari es.
Tempo hari, siang-siang, yang masih jauh dari waktu maghrib, dia ber-wasap di grup keluarga. Yang anggotanya cuma kita berempat; saya, Ibu Negara, si Sulung dan si Bungsu. Isi wasap-nya; bikin saya tersenyum. Si Bungsu minta dibelikan nasi bebek. Suatu permintaan yang langsung dikomentari kakaknya. Sebagaimana tampak pada skrinsyut di samping ini.😊
Minggu, 29 Desember 2019
Faiz Khitan
![]() |
| Selain pakai suntik anastesi, untuk menghilangkan perhatian, si Faiz juga pakai bius 'main games'. |
SETIAP ikut saya berobat ke dr. Dhlorifuddin, si Faiz selalu ikut masuk ruang periksa. Di saat itu juga, pak dokter yang ramah ini selalu menggoda Faiz sambil iseng pegang 'burung' si bungsu saya ini. "Kapan sunat?" goda dokter.
"Nanti kalau libur semester", jawab Faiz.
Saya duga, walau bilang telah berani dikhitan, ia saya golongkan sebagai 'wani-wani angas' ( takut-takut tapi sok berani). Ini pengalaman saya dulu saat mau disunat. Mau takut itu khitan adalah suatu kewajiban, mau berani kok membayangkan sakitnya itu sudah ngeri duluan. Iya sih, selalu ada orang yang bilang sakitnya dikhitan itu hanya seperti digigit semut. Ketahuilah, itu pernyataaan bohong! Lebih-lebih kalau yang bilang begitu seorang perempuan.😀
Dan, entah 'wani-wani angas' atau berani sungguhan, pada pagi 25 Desember kemarin si Faiz saya khitankan. Ke pak dokter Dhlorifuddin. Gak sakit saat disunat, pada saat siang barulah terasa panasnya. Sambil meringis menahan sakit, si Faiz bilang, "Ayah bohong, katanya sunat gak sakit. Aduuuh, ternyata perih. Padahal saat Upin-Ipin sunat, katanya juga gak sakit. Aduuh...."
"Iya, wis. Sekarang Ayah janji. Kamu gak akan Ayah sunatkan lagi..." ****
Sabtu, 14 Desember 2019
Tamu Tengah Malam
Saya dengar dari belakang suara beberapa orang. Laki-laki, juga perempuan. Sedang meminta maaf, kepada istri saya, karena telah datang bertamu malam-malam. Juga mengenalkan diri, bahwa mereka teman kuliah Edwin. Datang demi sebuah keperluan. Memberi ucapan selamat kepada si sulung Edwin. Yang hari ini berulang tahun.
![]() |
| Edwin dan bayangannya. (Foto: IG edwin) |
Ya, hari ini Edwin telah duapuluh tahun. Artinya? Saya merasa kok dia tiba-tiba sebesar ini
Kini, dia tak lagi 'buri'. Sibuk kuliah. Sibuk liputan. Sibuk dengan segala aktifitasnya. Nyaris saban hari pulang tengah malam.
Keluarga saya tak biasa merayakan ulang tahun. Tak pula punya tradisi memberi hadiah istimewa. Justru, tamu-tamu tengah malam itu yang datang membawa bingkisan. Entah apa. Mungkin benda kesukaan anak muda. Yang saya menjadi terlalu tua untuk memahaminya.
Sebagai orang tua, tentu punya harapan untuk anak-anaknya. Juga kepada si sulung Edwin; semoga ia menjadi orang baik yang bernasib baik. Itu saja.****
Rabu, 09 Oktober 2019
Lipatan Liputan
![]() |
| Edwin masuk terminal keberangkatan domestik bandara Juanda. |
![]() |
| Hasil liputan Edwin. |
Bagaimana dia di sana, sudah sholat apa belum, sudah makan atau belum? Dua hal itu yang kalau di rumah sebagai bahan 'khutbah' harian saya kepadanya. Begadang di kantor atau ngumpul menggarap tugas kuliah bersama kawan-kawannya sampai larut malam bahkan hingga dini hari. Membuat kalau waktunya subuh gak dibangunkan, ya... wes-ewes-ewes, bablas subuhnya!
Dan yang tak kalah bikin risaunya; saat selesai tugas liputan dan mesti balik lagi ke Surabaya. Saya bolak-balik wanti-wanti jangan sampai bangun kesiangan. Sehingga bisa terlambat sampai ke bandara Soekarno-Hatta. Kalau sampai kepancal pesawat dan tertinggal, wah piye jal?
![]() |
| Saat liputan AAFF 2019 April lalu. |
Liputan kali ini juga begitu. Secara jadwal padat sekali. Sampai minggu tengah malam masih liputan. Padahal Senin tanggal 7 kemarin, sudah harus kuliah. Jadwal hari pertama UTS menunggu. Pagi. Dan lewat wasap dia berkabar. Semalaman tidak tidur. Check out dari hotel dini hari. Sepulang liputan. Sekadar ambil barang. Lalu langsung ke bandara Soetta. Saya pesan diusahakan harus tidur. Barang sebentar. "Iya, tadi sempat merem sebentar di taksi, dalam perjalanan dari hotel ke bandara," ia mengabari setibanya di bandara Soetta.
Secara jadwal, pesawat yang ditumpanginya mendarat di Juanda jam 06.00 WIB. Itu secara jadwal. Padahal, adalah sudah hal lumrah maskapai yang ditumpangi anak saya dan temannya itu sering delay. Ibarat pepatah Jawa (plesetan); isuk tempe sore delay.
Rencana awal, saya yang menjemput. Senin pagi. Pakai motor. (Jalanan Surabaya di jam-jam orang berangkat kerja padat sekali. Motor memungkinkan saya untuk lebih gesit bermanuver. Sesekali zig-zag; zig ke kiri, zak ke kanan. Lalu tancap gas pol. Seperti Marc Marquez. Agar si Edwin bisa segera sampai kampus. Ikut UTS. Kalau pakai mobil, ah, saya belum punya ding!😀). Namun apa daya, Sabtu dengkul saya cedera. Sampai Senin pagi masih sakit. Sulit ditekuk. Bunyi mak-cekluk!
Jadinya ya... tidak bisa menjemput. Dia dan temannya naik taksi. Untunglah jam UTS dimulai setengah delapan. Lewat WA dia berkirim foto telah berada di kelas. Tujuh menit sebelum ujian dimulai. *****









